Notification

×

Kategori Berita

Cari Berita

Iklan

Iklan

Indeks Berita

Tag Terpopuler

Menurut Psikologi, Orang yang Gelisah saat Baterai Di bawah 30% memiliki 7 Ciri Kepribadian Unik ini

Selasa, 08 April 2025 | Selasa, April 08, 2025 WIB | 0 Views Last Updated 2025-04-10T08:48:50Z

FSAGUNG - Dalam zaman yang semuanya serba digital ini, telepon genggam telah berkembangan jauh melebihi hanya sebagai peranti untuk berkomunikasi saja; kini ia telah menjadi elemen integral dalam rutinitas kita sehari-hari.

Dimulai dari pekerjaan, berinteraksi dengan orang lain, hingga hanya untuk menghibur diri saja, semua hal tersebut kini dapat dilakukan melalui telepon genggam.

Maka tak heran jika banyak orang langsung merasa gelisah atau bahkan panik saat melihat ikon baterai ponsel mereka mulai berubah jadi merah di angka 30 persen ke bawah.

Namun, apakah Anda tahu bahwa perilaku alami semacam itu sebenarnya dapat menunjukkan banyak informasi tentang karakter seseorang?

Menurut psikologi, kebiasaan panik saat baterai ponsel melemah bukan cuma soal ketergantungan teknologi, tapi juga berkaitan erat dengan kondisi mental dan sifat-sifat terdalam dalam diri seseorang.

Berdasarkan artikel dari Global English Editing pada hari Selasa (8/4), berikut adalah tujuh karakteristik kepribadian milik orang-orang yang menjadi gelisah ketika tingkat baterai ponsel mereka turun ke bawah 30%, sesuai dengan penjelasan ilmu psikologi.

1. Merasa Tak nyaman Ketika Berada Seorang Dirinya

Banyak orang menggunakan ponsel sebagai pengalih perhatian agar tidak merasa kesepian atau bosan.

Mereka terus-menerus mencari bahan bacaaan, tayangan, atau hiburan lainnya demi menghindar dari pengalaman introspeksi diri.

Ketika baterai ponsel mereka mendekati habis, rasa cemas mulai muncul karena mereka harus menghadapi kesendirian.

Jenis orang seperti itu umumnya merasa gelisah ketika harus berada di kediaman sunyi atau tanpa aktivitas apapun. Telepon genggam menjadi sarana bagi mereka untuk menghindari saat-saat introspeksi pribadi atau perasaan kesepian.

Maka saat alat itu hampir tidak bisa digunakan lagi, mereka merasa kosong, bingung, dan akhirnya panik karena tidak tahu harus berbuat apa.

2. Ketergantungan yang Berlebihan pada Teknologi

Orang yang panik saat baterai ponselnya hampir habis merupakan sosok yang biasanya sudah terlalu menggantungkan berbagai aspek hidupnya pada teknologi, khususnya smartphone.

Mereka tidak hanya menggunakannya untuk hiburan, tetapi juga untuk hal-hal penting seperti bekerja, belanja online, mencari arah jalan, bahkan mencatat daftar tugas sehari-hari.

Karena semua hal bergantung pada perangkat ini, ketika baterainya hampir habis, mereka merasa lumpuh secara fungsional.

Ketergantungan ini menunjukkan bahwa mereka sudah tidak percaya lagi pada kemampuan diri sendiri tanpa bantuan teknologi.

Tidak memiliki akses ke telepon genggam, walaupun sebentar saja, dapat menimbulkan perasaan ketakutan dan membuat orang tersebut merasa tak berdaya dalam menghadapi hari itu.

Pada situasi demikian, telepon genggam tidak hanya menjadi sarana pendukung, tetapi sudah menjadi "tumpuan pokok" dalam kehidupan mereka.

3. Derajat Ketakutan yang Sangat Tinggi

Orang yang merasa panik ketika baterai ponselnya turun di bawah 30% merupakan sosok yang memiliki kecenderungan mengalami kecemasan yang tinggi.

Mereka secara konstan akan mengontrol tingkat baterai dan mulai merasa cemas ketika presentase-nya berkurang.

Kecemasan ini bukan hanya karena takut tidak bisa bermain media sosial atau membalas pesan, tetapi lebih dalam dari hal itu.

Mereka merasa seakan-akan terputus dari dunia, sehingga ponsel menjadi alat utama untuk merasa aman, terkoneksi, dan tetap dalam kendali.

Maka, saat alat itu hampir tidak bisa digunakan karena kehabisan daya, mereka merasa seperti kehilangan kendali atas hidup mereka.

Ini menunjukkan bahwa sebenarnya ada rasa takut tersembunyi dalam diri mereka yang muncul ketika kehilangan akses terhadap sesuatu yang selama ini mereka andalkan.

4. Takut Ketinggalan Informasi atau Momen Penting (FOMO)

Rasa takut ketinggalan atau FOMO (Fear of Missing Out) sangat umum terjadi pada orang-orang yang tak bisa tenang jika baterai ponselnya hampir habis.

Mereka merasa cemas bahwa ketika ponselnya mati, mereka bisa kehilangan informasi penting, seperti undangan mendadak, kabar dari keluarga, atau tren terbaru yang sedang ramai di media sosial.

Bahkan dalam situasi sederhana seperti menghadiri konser atau berkumpul bersama teman, mereka merasa harus selalu mengabadikan momen dan mengunggahnya segera.

Saat baterainya lemah, mereka seolah-olah kehilangan peluang untuk tetap terhubung dengan dunia yang selalu berkembang pesat ini.

Rasanya seperti terabaikan atau tertinggal saat tidak berada dalam lingkaran dunia digital bisa menyebabkan rasa tidak nyaman yang mendalam hingga kepanikan bagi sebagian orang.

5. Kesesuaian Antara Persepsi Kontrol Diri dan Realitas

Telepon genggam membuat kita merasa mampu mengontrol segalanya, mulai dari pengiriman pesan, pembelian barang, manajemen finansial, sampai hiburan. Oleh karena itu, beberapa individu percaya diri memegang kendali total dalam hidup mereka saat telepon genggam bekerja dengan sempurna.

Saat daya baterai menurun di bawah 30%, mereka merasa telah kehilangan banyak kontrol atas perangkatnya.

Mulai terasa ketidakamanan muncul, sebab instrumen yang biasa memberikan mereka kendali atas hidup kini tengah dalam posisi "lemah."

Hal ini menunjukkan bahwa di balik rasa percaya diri mereka, tersimpan ketakutan akan hilangnya pengendalian. Menurut mereka, telepon genggam tak sekadar peralatan, tetapi juga lambang dari kemandirian dan urutan dalam hidup. Jadi, saat ancaman tersebut datang, rasa cemas dan panik bisa timbul.

6. Kesulitan dalam Memilih Prioritas dan Mengelola Waktu

Ketika baterai ponsel hampir habis, seseorang dipaksa untuk memikirkan aplikasi atau fitur apa yang paling penting untuk digunakan lebih dulu.

Namun, orang yang tidak terbiasa mengatur waktu dan membuat skala prioritas akan merasa bingung dan stres dalam situasi ini.

Mereka terbiasa menggunakan ponsel tanpa batas, berpindah dari satu aplikasi ke aplikasi lain, tanpa benar-benar memikirkan mana yang penting.

Saat baterai melemah, mereka harus mulai membatasi pemakaian, dan ini menjadi tantangan besar.

Kondisi seperti ini memperlihatkan bahwa mereka belum punya kemampuan manajemen waktu yang baik, dan kurang terbiasa mengelola sumber daya secara efisien, bahkan untuk hal sederhana seperti daya baterai ponsel.

7. Selalu Butuh Validasi atau Pengakuan dari Orang Lain

Beberapa individu cenderung memerlukan persetujuan atau penghargaan dari lingkungan sekitarnya, hal ini dengan jelas terlihat dalam bagaimana mereka mengonsumsi konten melalui perangkat mobile untuk berinteraksi di platform-media sosial.

Mereka secara berkelanjutan membuka aplikasi untuk mengecek apakah ada orang yang memberi suka pada kiriman mereka, merespons kisah mereka, atau meninggalkan komentar di pos mereka.

Saat baterai ponsel mulai habis, mereka cemas tidak akan dapat mendapatkan respon atau tanggapan dari orang lain. Hal ini menyebabkan perasaan dirinya diabaikan, kurang diperhitungkan, dan seperti tidak ada yang memperdulikannya.

Keinginan ini berkembang karena pentingnya terus-menerus dirasakan penghargaan dan perhatian dari sekitar.

Tidak mengherankan jika mereka menjadi cemas ketika menyadari bahwa dalam waktu dekat, mereka akan kesulitan untuk terhubung dengan dunia online karena baterai perangkat genggamnya mendekati titik kosong.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

×
Berita Terbaru Update