FSAGUNG – Dalam era kemajuan teknologi yang pesat, Studio Ghibli sekarang dihadapkan pada tantangan baru yang tidak terduga: kecerdasan buatan. Teknologi AI telah memulai untuk membuat ilustrasi-ilustrasi dengan gaya khas Ghibli, hal ini pun mendorong keprihatinan tentang potensi pelanggaran hak cipta serta berkurangnya makna emosi dalam lukisan-lukisan manual.
Dikutip dari Screenrant dan Japan Times , Selasa (8/4), Goro Miyazaki, yang saat ini menjabat sebagai Direktur Pelaksana di Studio Ghibli, berbagi pendapatnya tentang tren tersebut. Meskipun ia mengakui adanya potensi dari kecerdasan buatan (AI), dia tetap enggan dengan ide bahwa teknologi dapat mendekati kedalihan emosional dalam karya sang ayah, Hayao Miyazaki.
Menurut Goro, generasi tua seperti ayahnya dan mendiang Isao Takahata tumbuh dalam bayang-bayang perang dan kehilangan. Pengalaman itulah yang memberi warna gelap dan makna mendalam pada film-film Ghibli seperti Spirited Away atau Grave of the Fireflies . "Bahkan Totoro pun menakutkan dalam caranya sendiri," ujarnya, merujuk pada ketakutan anak akan kehilangan ibunya.
Generasi muda, kata Goro, hidup dalam dunia yang lebih damai dan digital. Mereka mungkin tak punya beban emosional serupa, namun itu bukan berarti buruk. Yang ia ragukan adalah kemampuan AI untuk meniru kedalaman pengalaman manusia. "AI tidak punya trauma, kebahagiaan, atau duka—bagaimana bisa menciptakan emosi yang menyentuh?"
Namun demikian, Goro tidak mengabaikan keuntungan dari AI. Dalam situasi dimana industri animasi di Jepang sedang mengalami kurangan tenaga kerja dan minat generasi Z yang berkurang pada profesi manual, teknologi tersebut dapat memberi kesempatan kepada para seniman baru. Alat ini seharusnya dipandang sebagai asisten, bukan substitusi.
Meskipun demikian, dia juga menekankan bahwa bila hasil kerja AI mulai menjamur, lukisan manual mungkin akan kehilangan nilai-nilainya. Dia menyatakan, "Jika segalanya menjadi lebih cepat dan mudah, pengunjung dapat merasa bosan dengan karya-karya yang tidak memiliki sentuhan personal."
Goro juga mengakui bahwa industri anime Jepang saat ini sedang memasuki era perubahan signifikan. Sang ayah, Hayao Miyazaki, yang telah mencapai usia 84 tahun, baru-baru ini menerima penghargaan Oscar untuk SiBoy dan SiBurung Heron . Namun ia juga menyadari bahwa masa depan Ghibli tak bisa terus bergantung pada dua pendirinya.
“Kalau mereka tak bisa membuat anime lagi, lalu bagaimana nasib Ghibli?” tanya Goro. “Mereka tidak bisa digantikan.”
Di tengah maraknya gambar-gambar AI-generated yang meniru gaya Ghibli, publik kembali mengangkat video lama Hayao Miyazaki dari 2016. Dalam video itu, Hayao mengecam AI dengan kata-kata, “Ini penghinaan terhadap kehidupan itu sendiri.”
Namun, menurut penjelasan lengkap Japan Times , pesan tersebut ditargetkan untuk grafik komputer AI berupa makhluk zombie menakutkan, bukannya untuk teknologi AI secara keseluruhan.
Goro sempat dianjurkan untuk menghindari bidang animasi. Ibunya, yang juga merupakan animator, menegaskan bahwa profesi tersebut sangat melelahkan. Namun, hasrat kreatifnya tidak pernah padam. Akhirnya, ia pun menjadi sutradara. Tales from Earthsea dan Dari Atas Bukit Mawar serta berpartisipasi dalam pengembangan Museum dan Taman Ghibli.
Saat ini, dengan ledakannya teknologi AI dan perubahan sektor industri, Goro menginginkan sesuatu untuk terus bertahan: jiwa manusia yang tercermin dalam tiap alis gambar. "Keikhlasan kita tidak hanya khawatir tentang hilangnya estetika khas Studio Ghibli, melainkan juga kehilangan semangatnya."
Tidak ada komentar:
Posting Komentar