Notification

×

Kategori Berita

Cari Berita

Iklan

Iklan

Indeks Berita

Tag Terpopuler

7 Cara Teknologi Menyebabkan Kita Merasa Semakin Sendiri, Bahkan Saat Selalu Terhubung Secara Online

Selasa, 08 April 2025 | Selasa, April 08, 2025 WIB | 0 Views Last Updated 2025-04-15T05:31:11Z

FSAGUNG Teknologi memiliki cara unik dalam berpromosi tentang kemampuan menghubungkan banyak orang dari jarak jauh. Akan tetapi, tingkat kesempurnaan teknologi kadang malah membawa dampak sebaliknya.

Kita lebih terhubung dari sebelumnya, tetapi banyak dari kita yang akhirnya merasakan terisolasi. Ironisnya terletak pada kehalusan bagaimana perangkat dan aplikasi, yang dirancang untuk menyatukan, justru semakin menjauhkan kita.

Menurut laporan dari Small Business Bonfire, ada tujuh metode tidak langsung yang bisa membuat teknologi meningkatkan perasaan kesepian walaupun sudah adanya konektivitas digital tanpa henti.

1. Ilusi koneksi

Seringkali mudah untuk merasa terhubung ketika gadget kita penuh dengan berbagai notifikasi sepanjang waktu. Akan tetapi, ada perbedaan signifikan di antara pertukaran informasi secara daring dan hubungan interpersonal sungguhan.

Interaksi sejati antar manusia mencakup lebih dari hanya mengirim pesan teks atau emoji. Ini juga menyangkut memahami ekspresi wajah, menyimak intonasi emosional, serta bersama-sama dalam satu ruangan.

Alat-alat kita, meskipun sangat bermanfaat, tak bisa menggantikan elemen-elemen interaksi manusia tersebut. Percakapan digital secara berkelanjutan mampu memberikan kesalahan persepsi tentang kepuasan sosial, padahal justru sering kali menyebabkan perasaan kosong.

2. Perangkap perbandingan

Saat menelusuri feed media sosial, mudah bagi kita untuk mulai membandingkan kehidupan kita sendiri dengan kehidupan yang diatur dengan cermat dan tampak sempurna yang kita lihat di internet.

Paparan terus-menerus terhadap cuplikan momen terbaik orang lain dapat membuat kita merasa tersisih dan kesepian, meskipun kita berinteraksi dengan orang lain secara daring.

Memahami jebakan perbandingan ini bisa mempermudah kita untuk merespons postingan di media sosial dengan sikap kritis dan lebih menghargai hidup kita sendiri.

3. Paradoks pilihan

Menggunakan aplikasi dan laman web yang menyediakan ribuan film, lagu, serta buku dengan mudah dijangkau melalui ujung jari kita, membuat kita selalu memiliki beragam pilihan untuk menghibur diri. Akan tetapi, kemudahan tersebut juga bisa membawa tantangan tersendiri.

Psikolog Barry Schwartz menyebut ini paradoks pilihan. Penelitiannya menunjukkan bahwa meskipun beberapa pilihan tidak diragukan lagi lebih baik daripada tidak ada sama sekali, lebih banyak pilihan tidak selalu lebih baik daripada lebih sedikit.

Banyaknya opsi yang ada bisa menyebabkan ketakutan dan tekanan, sehingga kita merasa sendirian di tengah keraguan kita.

4. Hilangnya waktu henti

Sekarang, setiap waktu luang adalah kesempatan untuk memeriksa email, menggulir media sosial, atau mengikuti berita terbaru. Kita terus-menerus sibuk, sehingga hanya menyisakan sedikit ruang untuk introspeksi atau interaksi sosial spontan.

Keadaan keterlibatan digital yang konstan ini dapat mengarah pada paradoks yang mengejutkan: semakin sedikit waktu yang kita habiskan sendirian dengan pikiran kita, semakin kesepian pula perasaan kita.

5. Batasan yang mengabur

Dengan kemampuan menerima email dan panggilan kantor di perangkat pribadi, batasan antara kehidupan profesional dan pribadi bisa menjadi kabur.

Mereka mungkin mendapati dirinya membalas pesan pekerjaan hingga larut malam, mengorbankan waktu berkualitas bersama keluarga atau relaksasi yang sangat dibutuhkan.

Ketersediaan yang tidak berhenti-hentinya ini bisa menghasilkan rasa kesepian, sebab pekerjaan merambah area yang umumnya digunakan untuk hubungan personal dan perawatan diri.

6. Kesenian berbicara yang perlahan menghilang

Di era pesan instan, seni percakapan mungkin mulai memudar. Kita sering kali lebih nyaman mengetik pikiran kita daripada mengungkapkannya dengan lantang.

Perubahan menuju komunikasi berbasis teks bisa jadi akan menghapus nuansa yang ada dalam percakapan verbal. Intonasi suara, ekspresi wajah, serta gerakan tubuh, semuanya memberikan kedalaman pada pertukaran kita dan memfasilitasi rasa keterikatan yang lebih besar antar sesama.

Jika kita terlalu mengandalkan komunikasi digital, kita mungkin akan kehilangan elemen penting dalam obrolan langsung, yang bisa menimbulkan rasa kesepian.

7. Pergantian Komunitas Dunia Nyata

Kelompok online bisa memberikan perasaan keterlibatan kepada mereka yang mungkin merasa sebagai orang asing dalam lingkup kehidupan sehari-hari. Akan tetapi, kelompok online tak harus mengambil alih peran dari komunitas di kehidupan nyata.

Komunitas fisik memberikan pengalaman bersama dan rasa memiliki yang tidak dapat ditiru oleh platform digital. Komunitas fisik memungkinkan kita membangun hubungan yang lebih dalam dan lebih bermakna .

Tanpa koneksi yang tulus ini, kita berisiko merasa terisolasi dan terputus, bahkan meskipun kita menjadi bagian dari banyak grup daring.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

×
Berita Terbaru Update